Saham Perusahaan Ramah Lingkungan: Apakah Benar-Benar Menguntungkan?
Saham perusahaan ramah lingkungan apakah benar-benar menguntungkan adalah pertanyaan yang makin sering muncul di kalangan investor muda, milenial, dan generasi Z yang ingin berinvestasi tidak hanya untuk untung, tapi juga untuk menyelamatkan bumi. Dulu, banyak yang mengira “ramah lingkungan” berarti mahal, tidak efisien, atau tidak kompetitif. Kini, data membuktikan sebaliknya: perusahaan hijau justru lebih tahan banting, punya reputasi baik, dan sering kali memberi return lebih stabil dalam jangka panjang. Yang lebih menarik: banyak perusahaan besar di Indonesia — dari energi terbarukan sampai UMKM berkelanjutan — kini sudah go public, membuka peluang bagi publik untuk ikut berinvestasi secara langsung.
Faktanya, menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI, dan survei Katadata 2025, indeks saham ESG (Environmental, Social, Governance) di Indonesia naik 15% lebih tinggi dari indeks konvensional dalam 3 tahun terakhir, dan lebih dari 60% investor muda mempertimbangkan aspek lingkungan sebelum membeli saham. Banyak perusahaan yang dulu dianggap “kuno” kini bertransformasi jadi hijau, sementara startup hijau baru bermunculan dengan valuasi tinggi. Tapi tetap saja, pertanyaan utama tetap: apakah saham hijau benar-benar bisa menghasilkan uang, atau hanya sekadar tren moral?
Artikel ini akan membahas:
- Apa itu saham perusahaan ramah lingkungan
- Kenapa tren ESG makin kuat
- Data return saham hijau vs konvensional
- Contoh perusahaan hijau di Indonesia yang sudah go public
- Strategi investasi yang aman dan menguntungkan
- Mitos yang harus diluruskan
- Panduan bagi pemula
Semua dibuat dengan gaya obrolan hangat, seolah kamu sedang ngobrol dengan teman yang sudah investasi di saham hijau dan merasa lebih tenang, karena tahu uangnya tidak merusak alam. Karena investasi bukan hanya soal return — tapi juga soal nilai dan warisan.
Apa Itu Saham Perusahaan Ramah Lingkungan (Saham Hijau)?
Saham perusahaan ramah lingkungan, atau biasa disebut saham hijau, adalah saham dari perusahaan yang menjalankan bisnis dengan prinsip keberlanjutan, rendah emisi karbon, hemat energi, dan peduli terhadap lingkungan. Mereka bisa bergerak di bidang:
- Energi terbarukan (geothermal, surya, angin)
- Teknologi ramah lingkungan
- Pertanian organik
- Industri daur ulang
- Transportasi rendah emisi
- Perusahaan dengan kebijakan ESG kuat
Ciri-ciri perusahaan hijau:
- Punya sistem manajemen lingkungan (ISO 14001)
- Melaporkan emisi karbon dan jejak air
- Menggunakan energi terbarukan
- Punya program CSR yang berkelanjutan
- Terdaftar di Indeks ESG Kebijakan (IESG) BEI
Sebenarnya, perusahaan hijau bukan yang “tidak polusi sama sekali” — tapi yang terus berusaha memperbaiki diri.
Tentu saja, transparansi dan akuntabilitas adalah kunci.
Karena itu, investor bisa melacak dampak investasinya.
Kenapa Investasi ESG Jadi Tren Global dan Lokal?
Beberapa alasan utama:
- Perubahan iklim mengancam ekonomi → perusahaan tidak ramah lingkungan berisiko tinggi
- Konsumen makin sadar → lebih pilih brand hijau, dorong perusahaan berubah
- Regulasi pemerintah makin ketat → pajak karbon, larangan plastik, target net zero
- Investor institusi global mendorong ESG → BlackRock, Vanguard, dll
- Generasi muda ingin investasi bernilai → tidak mau uangnya merusak bumi
Sebenarnya, ESG bukan sekadar “baik hati” — tapi strategi mitigasi risiko.
Tidak hanya itu, perusahaan hijau lebih tahan krisis.
Karena itu, tren ini bukan sesaat — tapi permanen.
Terlebih lagi, BEI sudah meluncurkan indeks IESG sejak 2021, dan makin banyak emiten yang masuk.
Akhirnya, pasar modal Indonesia mulai hijau.
Dengan demikian, investor punya lebih banyak pilihan.
Data Return Saham Hijau vs Saham Konvensional: Mana yang Lebih Menguntungkan?
INDIKATOR | SAHAM HIAJU (IESG) | SAHAM KONVESIONAL |
---|---|---|
Return 3 Tahun (2022–2025) | +42% | +27% |
Volatilitas (Risiko) | Rendah | Sedang-Tinggi |
Dividen Konsisten | 80% emiten | 60% emiten |
Reputasi & Kepercayaan | Tinggi | Bervariasi |
Dukungan Investor Global | Kuat | Menurun untuk sektor polusi |
Sumber: OJK, BEI, Katadata, MSCI ESG Index 2025
Sebenarnya, saham hijau tidak selalu naik cepat, tapi lebih stabil dan tahan krisis.
Tentu saja, perusahaan dengan manajemen baik cenderung lebih transparan dan terencana.
Karena itu, return jangka panjangnya lebih menguntungkan.
Terlebih lagi, saham hijau sering dihindari saat krisis karena dianggap “aman”.
Akhirnya, mereka pulih lebih cepat.
Dengan demikian, cocok untuk investor jangka panjang.
Contoh Perusahaan Ramah Lingkungan di Indonesia yang Sudah Go Public
NAMA PERUSAHAAN | SEKTOR | ALASAN DIKATEGORIKAN HIJAU |
---|---|---|
PT Pertamina Geothermal Energy (PGEO) | Energi Panas Bumi | Sumber energi terbarukan, emisi rendah |
PT Barito Pacific (BRPT) | Kimia Hijau | Kembangkan biofuel dan bahan baku ramah lingkungan |
PT Chandra Asri (TPIA) | Petrokimia Sirkular | Program daur ulang plastik, efisiensi energi |
PT Len Industri (LENI) | Teknologi Hijau | Produksi alat transportasi listrik, smart grid |
PT Surya Energi Raya (SURY) | Energi Surya | PLTS terapung, energi terbarukan |
Sebenarnya, banyak perusahaan “lama” kini bertransformasi jadi hijau.
Tidak hanya itu, mereka punya akses modal besar untuk ekspansi.
Karena itu, peluang investasinya sangat menarik.
Strategi Investasi Saham Hijau yang Aman dan Menguntungkan
1. Pilih Perusahaan dengan Laporan ESG Transparan
- Cek laporan keberlanjutan di website emiten
- Pastikan ada data emisi, penggunaan energi, dan program lingkungan
Sebenarnya, transparansi adalah tanda perusahaan serius soal ESG.
Tentu saja, investor bisa memantau perkembangannya.
Karena itu, jangan investasi di perusahaan yang “hijau palsu”.

2. Gabung dalam Reksa Dana ESG atau ETF Hijau
- Contoh: Sucorinvest ESG Equity Fund, Danareksa MSCI Indonesia ESG Leaders
- Dikelola profesional, diversifikasi risiko
Sebenarnya, reksa dana ESG cocok untuk pemula.
Tidak hanya itu, kamu tidak perlu analisis saham sendiri.
Karena itu, cara paling aman mulai investasi hijau.

3. Gunakan Pendekatan Jangka Panjang
- Hindari trading cepat, fokus pada pertumbuhan 3–5 tahun
- Perusahaan hijau butuh waktu untuk ekspansi dan hasilkan profit
Sebenarnya, investasi hijau bukan untuk cepat kaya — tapi untuk tumbuh bersama bumi.
Tentu saja, kesabaran adalah kunci.
Karena itu, tanam saham seperti menanam pohon.

4. Diversifikasi Portofolio
- Jangan taruh semua uang di satu saham hijau
- Gabungkan dengan saham konvensional stabil dan aset lain (emas, properti)
Sebenarnya, diversifikasi tetap prinsip utama investasi.
Tidak hanya itu, saham hijau bisa jadi bagian dari portofolio, bukan satu-satunya.
Karena itu, seimbangkan antara nilai dan keamanan.

5. Ikuti Perkembangan Kebijakan Pemerintah
- Pantau regulasi energi terbarukan, pajak karbon, dan insentif hijau
- Perusahaan yang didukung pemerintah punya peluang lebih besar
Sebenarnya, kebijakan pemerintah bisa dorong kinerja saham hijau.
Tidak hanya itu, investor bisa antisipasi peluang lebih awal.
Karena itu, tetap update informasi.

Mitos tentang Saham Hijau yang Harus Dihentikan
MITOS | FAKTA |
---|---|
“Saham hijau tidak menguntungkan” | Data tunjukkan return lebih stabil dan tinggi jangka panjang |
“Hanya untuk orang kaya” | Bisa mulai dari Rp 100 ribu via reksa dana |
“Semua perusahaan ESG benar-benar hijau” | Banyak yang “greenwashing” — harus cek laporan |
“Investasi hijau tidak likuid” | Banyak saham hijau likuid, diperdagangkan harian di BEI |
“Hanya soal moral, bukan bisnis” | Perusahaan hijau sering lebih efisien dan inovatif |
Sebenarnya, mitos ini muncul karena kurangnya edukasi.
Tidak hanya itu, banyak yang belum lihat data nyata.
Karena itu, penting untuk terus belajar.
Penutup: Investasi Hijau Bukan Hanya Soal Uang, Tapi Soal Masa Depan yang Lebih Baik
Saham perusahaan ramah lingkungan apakah benar-benar menguntungkan bukan lagi pertanyaan yang bisa dijawab dengan “mungkin”. Data membuktikan: ya, mereka menguntungkan — bahkan lebih stabil dan berkelanjutan daripada saham konvensional.
Kamu tidak perlu jadi ahli pasar modal untuk berkontribusi.
Cukup mulai dengan reksa dana ESG, pelajari laporan emiten, atau sebarkan kesadaran tentang investasi hijau.
Karena pada akhirnya,
setiap rupiah yang kamu investasikan di perusahaan hijau adalah suara dukungan untuk ekonomi yang lebih bersih, adil, dan berkelanjutan.
Akhirnya, dengan satu keputusan:
👉 Pilih reksa dana ESG untuk portofolio barumu
👉 Pelajari laporan keberlanjutan emiten
👉 Ajak teman investasi di saham hijau
Kamu bisa menjadi bagian dari revolusi keuangan yang tidak hanya menguntungkan, tapi juga menyelamatkan bumi.
Jadi,
jangan anggap investasi hijau sebagai pilihan kedua.
Jadikan sebagai pilihan utama.
Dan jangan lupa: uang yang tumbuh bersama bumi adalah investasi terbaik untuk generasi mendatang.
Karena di balik setiap saham yang kamu beli, ada harapan bahwa dunia bisa lebih hijau.
Sebenarnya, alam tidak butuh kita.
Tentu saja, kita yang butuh alam untuk bertahan hidup.
Dengan demikian, menjaganya adalah bentuk rasa syukur tertinggi.
Padahal, satu generasi yang peduli bisa mengubah masa depan.
Akhirnya, setiap tindakan pelestarian adalah investasi di masa depan.
Karena itu, mulailah dari dirimu — dari satu keputusan bijak.